Ilustrasi: Rifda/DinamikA
Oleh: Devi Kartikasari
Namanya Arkan. Rumah kami hanya berjarak dua rumah, cukup dekat untuk membuat kami bisa saling memanggil dari halaman rumah, tetapi cukup jauh dari jangkauan pengawasan ibu kami ketika kami sudah pergi bermain sepeda di sore hari. Hampir setiap hari, Arkan datang dengan sepeda berwarna merah. Ia akan berdiri di depan rumah, mengetuk pintu sekali lalu memanggil namaku seolah-olah seluruh kampung perlu tahu bahwa ia sedang mengajakku main.
“Tara, main yuk,”
Aku akan keluar sambil membawa sandal yang belum terpasang sempurna. “Main kemana?”
“Muter,”
“Muter kemana?”
Arkan mengangkat bahu sebelum menjawab “Nggak tahu, yang penting muter-muter aja sampe sore,”
Kami memang tidak pernah membutuhkan tujuan. Jalan yang sama bisa kami lewati berkali-kali. Kadang kami berhenti membeli es lilin di warung depan gang, kadang duduk di pinggir lapangan sambil membicarakan hal-hal yang hanya masuk akal bagi anak-anak.
Waktu itu aku belum tahu bahwa ada beberapa orang yang akan tinggal begitu lama dalam ingatan kita. Aku hanya tahu Arkan selalu ada. Sampai suatu hari kami lulus Sekolah Dasar dan semuanya berubah tanpa benar-benar ada yang mengubahnya. Kami masuk sekolah yang berbeda. Teman-teman baru datang, kesibukan baru muncul, dan percakapan kami perlahan menghilang. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada perpisahan. Kami hanya saling berhenti mencari.
Tahun-tahun berlalu. Aku pikir mungkin begitulah beberapa pertemanan berakhir: bukan karena salah satu pergi, tetapi karena keduanya terlalu sibuk berjalan ke arah yang berbeda. Sampai sebuah pesan masuk ke ponselku menjelang akhir SMA,
Halo Ra, apa kabar? masih inget aku?
Aku langsung tahu siapa pengirimnya, tapi aku memilih untuk membalas seolah-olah tidak tahu siapa di balik pesan dari nomor tidak dikenal itu,
Ini siapa? sorry nggak inget
Balasannya datang beberapa detik kemudian.
Yang dulu suka ngajak kamu muter nggak jelas
Aku tersenyum. Malam itu kami berbicara cukup lama. Tentang sekolah, teman-teman lama, rencana kuliah, dan hal-hal kecil yang seharusnya sudah terlupakan. Aneh rasanya mengetahui bahwa seseorang yang sempat menjadi asing masih bisa membuat kita tertawa seperti tidak pernah kehilangan jarak.
Sejak malam itu, Arkan kembali hadir, tidak sekaligus seperti dulu. Pelan-pelan, tetapi cukup untuk membuat sesuatu yang kukira sudah selesai ternyata masih menyisakan tempat di dalam diriku. Aku menyukainya, mungkin sejak dulu. Hanya saja ketika kecil aku tidak tahu harus menyebut perasaan itu apa.
Setelah lulus SMA, kami kembali punya kesibukan masing-masing. Arkan masuk Universitas di Semarang. Aku kuliah di sebuah kota yang jaraknya sekitar satu jam dari Semarang. Jarak satu jam bukanlah jarak yang terlalu jauh. Kami bisa bertemu tanpa perlu merencanakan berhari-hari, dan mungkin karena itulah pertemuan-pertemuan kami menjadi sesuatu yang perlahan terasa biasa.
Pertama kali Arkan datang ke kosku, aku bahkan tidak tahu harus merasa bagaimana. Sore itu aku sedang duduk di teras kos sambil membaca buku ketika suara motor berhenti tepat di depan pagar. Aku mengenali suara itu. Arkan melepas helmnya dan menatap ke arahku.
“Sudah siap?”
Aku mengernyitkan dahiku. “Tahu dari mana aku ngekos di sini?”
“Dari ayahmu, kemarin aku tanya. Siap-siap dulu sana, ayo keluar,”
Sejak hari itu, setiap kali aku bilang sedang berada di kos dan Arkan kebetulan tidak sibuk, ia akan datang menjemput. Kadang kami pergi sore-sore, kadang menjelang malam, tidak pernah ada tujuan khusus. Ia hanya berkata, “Ayo keluar”
Aku akan turun ke depan kos, berdiri di bawah lampu jalan, lalu melihat motornya berhenti di depan pagar. Ada sesuatu yang aneh dari kebiasaan itu, aku mulai hafal suara motornya, hafal cara ia mengerem tepat di depan kos, hafal bagaimana ia biasanya melepas helm, menyisir rambutnya dengan tangan, lalu menatap ke arahku sambil memasang senyum lebarnya itu.
Hal-hal kecil semacam itu seharusnya tidak berarti apa-apa. Namun, bagi seseorang yang sedang jatuh cinta, hal kecil bisa menjadi alasan untuk memperpanjang harapan.
Suatu malam, kami duduk di sebuah tempat makan yang mulai sepi. Hanya ada dua meja lain yang masih terisi. Arkan sedang memainkan ponselnya sementara aku mengaduk minuman yang esnya sudah hampir mencair seluruhnya.
“Kita akhir-akhir ini sering ketemu ya,” katanya tanpa mengangkat kepala
“Kan kamu yang ngajak,”
“Dulu kita susah banget ketemu. Sekarang tinggal bilang, ‘besok ketemu’, bisa”
Kami terdiam sebentar. Ada banyak hal yang bisa dibicarakan, tetapi entah mengapa percakapan justru berhenti di sana. Aku memandang wajahnya dan tiba-tiba teringat masa kecil kami, Arkan yang dulu datang ke rumah dengan sepeda, mengajakku berkeliling tanpa tujuan, dan aku yang selalu mengikutinya meskipun tidak pernah tahu hendak pergi kemana.
Ternyata ada beberapa kebiasaan yang tidak benar-benar hilang. Hanya bentuknya yang berubah. Dulu ia menjemputku dengan sepeda, sekarang ia datang dengan motor. Dulu kami berkeliling kampung, sekarang kami berkeliling kota.
Setelah beberapa kali keluar dengan Arkan, aku jadi mengetahui bahwa Arkan memang mudah dekat dengan siapa saja. Terutama perempuan. Ia punya banyak teman perempuan dan tidak pernah kesulitan membuat mereka nyaman berada di dekatnya. Beberapa kali, ketika sedang bersamaku, ponselnya berbunyi dan muncul nama perempuan yang berbeda.
Sampai suatu sore, ketika kami sedang duduk di pinggir jalan setelah membeli minuman, Arkan tiba-tiba bercerita tentang seorang perempuan yang baru dikenalnya.
“Dia lucu,” katanya, “kalau ngobrol sama dia tuh nggak pernah kehabisan topik,”
“Kamu suka?” tanyaku sambil tersenyum
“Belum tahu,”
“Terus kenapa diceritain ke aku?”
Arkan mengangkat bahu, “Ya pengen cerita aja,”
Jawaban itu terdengar sederhana, tapi entah mengapa aku menyimpannya lama. Aku tidak tahu apakah ia bercerita karena menganggapku teman dekat atau karena memang ada sesuatu yang lebih dari itu. Barangkali aku terlalu sering mencari makna dari hal-hal yang sebenarnya tidak memiliki makna.
Yang paling kusukai dari Arkan bukan caranya membuatku merasa istimewa. Justru karena bersamanya aku tidak perlu berusaha menjadi siapa-siapa. Aku bisa diam tanpa harus merasa canggung, bisa bercerita tentang hal-hal yang tidak penting, bisa tertawa terlalu keras, mengeluh tentang tugas, atau sekadar duduk di atas motornya sepanjang perjalanan tanpa percakapan. Mungkin itu sebabnya perasaan itu bertahan begitu lama.
Aku tidak jatuh cinta kepada seseorang yang baru kukenal. Aku jatuh cinta kepada seseorang yang pernah mengenalku ketika aku masih menjadi anak kecil dengan rambut yang dikepang, seseorang yang pernah melihatku menangis karena jatuh dari sepeda, seseorang yang pernah tahu makanan apa yang paling kusukai bahkan sebelum aku tahu bahwa makanan itu akan menjadi favoritku. Dan ketika kami bertemu kembali setelah bertahun-tahun, rasanya seperti menemukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah hilang. Aku pikir mungkin Arkan merasakan hal yang sama. Ternyata tidak.
Beberapa bulan kemudian, Arkan masih datang ke kos seperti biasa. Tidak sesering dulu, kadang dua minggu sekali, kadang baru muncul setelah sebulan. Tetapi setiap kali datang, caranya tetap sama—mengirim pesan singkat bahwa ia sudah di depan, lalu menunggu sampai aku turun. Hari itu ia datang menjelang sore, aku baru saja selesai menyapu lorong kos ketika mendengar suara motornya dari halaman. Entah sejak kapan aku sudah bisa mengenali suara itu tanpa perlu melihat ke luar. Aku mengambil tas, lalu turun. Arkan sedang bersandar di motornya sambil memainkan ponsel.
“Lama,?” tanyaku
“Enggak,”
Ia menyodorkan helm kepadaku dan kami pergi seperti biasa. Makan di tempat yang pernah kami datangi, berhenti membeli minuman di pinggir jalan, kemudian berputar tanpa tujuan sampai langit berubah warna. Arkan bercerita tentang kampusnya, tentang dosen yang menyebalkan, tentang teman-temannya, dan tentang Serli—perempuan yang sedang dekat dengannya. Nama itu sekarang sudah biasa kudengar, tidak lagi membuatku ingin bertanya lebih jauh, sampai ketika sedang berhenti di lampu merah, ponsel Arkan berdering. Ia melihat layarnya.
“Serli telepon,” katanya sambil melihat ke arahku.
Aku mengangguk. “Angkat aja,”
Arkan menerima panggilan itu. Aku tidak mendengar percakapan mereka dengan jelas karena suara kendaraan terlalu ramai. Hanya potongan-potongan kalimat yang sampai ke telingaku.
Iya, aku masih di luar
Enggak, sama Tara
Temenku
Aku menoleh ke arah jalan. Dua kata terakhir itu sebenarnya tidak istimewa, Arkan sudah berkali-kali menyebutku begitu, tetapi entah kenapa kali ini aku mendengarnya seperti seseorang yang baru pertama kali diperkenalkan.
Temenku
Bukan karena aku berharap ia menyebutku lebih dari itu. Justru karena aku tiba-tiba membayangkan bagaimana selama ini aku menyebutnya ketika bercerita kepada orang lain.
Arkan. Teman yang selalu mengajakku pergi tanpa tujuan. Teman yang tahu kalau aku tidak suka makanan pedas. Teman yang selalu menjemputku kalau aku sedang ingin ke Semarang. Teman yang tahu hampir semua hal tentang hidupku. Aku selalu punya banyak cara untuk menjelaskan siapa dia. Sementara bagi Arkan, mungkin hanya ada satu kata yang cukup. Teman.
Malamnya Arkan baru mengantarkanku pulang. Motor berhenti di depan kos, dan Arkan masih diam di tempat ketika aku sudah mulai berjalan masuk ke halaman kos.
“Tara!”
Aku menoleh. “Kenapa?”
“Besok kalau mau ke Semarang lagi kabarin ya,”
Lampu jalan membuat bayangan kami berdua terpantul di aspal–berdiri berdampingan, tapi terasa ada jarak. Aku mengangguk pelan, tersenyum kecil, lalu berbalik masuk ke halaman kos.
Suara mesin motornya perlahan menjauh dan menghilang di ujung gang. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu mencari arti dari kalimatnya. Dulu mungkin akan kusimpan kalimat itu baik-baik, lalu membawanya ke mana-mana seperti bukti kecil bahwa keberadaanku berarti. Sekarang tidak.
Aku baru menyadari bahwa mungkin selama ini bukan Arkan yang selalu datang kepadaku. Akulah yang selalu memastikan ada alasan untuk tetap menunggunya. Besok, kalau ia datang lagi, mungkin aku masih akan ikut. Mungkin aku masih akan tertawa pada cerita-ceritanya. Mungkin aku masih akan menyukainya dan perasaan ini tidak bisa langsung hilang hanya karena akhirnya aku mengerti.
Tetapi ada satu hal yang tidak akan kulakukan lagi: menganggap setiap kali ia datang sebagai kesempatan bahwa suatu hari ia akan tinggal.





