Sumber Foto: Pinterest
Oleh: Niken Afifah Cahyani
Berdasarkan keputusan UNESCO, saat konferensi umum di Paris tahun 1999, ditetapkan bahwa tanggal 21 Maret diperingati sebagai hari puisi di seluruh dunia. Sebelumnya, berbagai komunitas sastra memperingati hari puisi pada bulan Oktober sebagai penghormatan terhadap penyair Amerika Ralph Cheyney. Keputusan ini bertujuan untuk mendukung keanekaragaman linguistik melalui ekspresi puisi dan mengenalkan pembacaan serta penulisan puisi ke seluruh dunia.
Berbeda dengan UNESCO, di Indonesia hari puisi ditetapkan pada tanggal 28 April berdasarkan surat keputusan menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 071 tahun 1969. Keputusan ini merujuk pada hari wafatnya sang “Binatang Jalang” yakni Chairil Anwar tahun 1949, selain itu alasan lain yang mendukung pemilihan tanggal wafat dari sang pujangga adalah mengenang dedikasi Chairil Anwar pada perkembangan sastra di Indonesia.
Riwayat Singkat Chairil Anwar
Chairil Anwar lahir di Medan 26 Juli 1922, seorang pujangga yang berasal dari lingkungan terpandang serta cerdas. Masa kecil dan remajanya adalah masa penjajahan, baik era kolonial Belanda maupun Jepang, sehingga tidak heran jika karya-karyanya banyak berisi seruan dan semangat dalam perjuangan. Sejarawan Anhar Gonggong membagi dua tipe generasi pada era abad 20-an, yakni generasi terdidik dan generasi terdidik sekaligus tercerahkan, Chairil Anwar hadir sebagai bagian dari generasi terdidik sekaligus tercerahkan dengan perannya dalam perjuangan kemerdekaan melalui karya-karyanya yang membara serta berkobar. Generasi tercerahkan adalah sosok-sosok yang tidak menutup mata dan berpangku tangan terhadap situasi penjajahan.
Bersama Asrul Sani dan Rivai Arpin, Chairil Anwar kemudian dikenal sebagai sosok pelopor puisi modern di Indonesia. Gaya bahasa yang mendayu-dayu khas dari sastra lama, dikonversi menjadi sastra dengan bahasa yang lugas dan intens. Selain itu, puisi modern memperlihatkan bahwa sastra tidak hanya terikat pada cerita-cerita dengan tema istanasentris/mistis, tetapi sastra bisa lebih dinamis yakni mengikuti perkembangan zaman dan realitas sehari-hari. Menghadapi situasi penjajahan, Chairil Anwar hadir bersama perannya dalam mendukung semangat perlawanan. Berbagai karyanya berhasil mendobrak semangat dengan tema-tema yang bebas dan ekspresif.
Selain ekspresif, Chairil Anwar merupakan pujangga pelopor angkatan 45 yang beraliran individualisme dan eksistensialisme. Ciri dari pujangga dengan aliran individualisme yaitu orang-orang yang sadar pada kebebasan akan diri sendiri dan kebebasan dalam berekspresi. Sedangkan eksistensialisme yaitu orang-orang yang bertanggung jawab terhadap apa yang dia pilih dan pencarian makna terhadap apa yang dia hadapi. Karya fenomenal dari Chairil Anwar yang berjudul “Aku” merupakan manifestasi penggabungan dari dua ciri di atas.
Karya-karya Chairil Anwar juga mencerminkan kejujuran, perasaan intens dan perenungan mendalam tentang eksistensi manusia. Gaya bahasanya yang lebih modern turut menjadi alasan mengapa karya-karyanya masih eksis dan relevan hingga sekarang. Selain menikmati rasa yang indah, pembaca merasa terhubung dengan karya yang disuguhkan mengingat apa yang tertulis hampir dialami oleh sebagian besar manusia dengan tema kehidupan.
Berbagai uraian di atas menjadi bukti betapa besar dedikasi Chairil Anwar tidak saja pada puisi dan sastra tetapi juga pada pesan yang mampu menggerakkan khalayak ramai. Sehingga tidak menjadi sebuah keanehan jika tanggal wafatnya ditetapkan sebagai hari puisi nasional.
Bagaimana Kabar Puisi di Ruang-Ruang Keselarasan?
Tanggal 28 April sejauh ini masih diperingati sebagai hari puisi nasional dan Chairil Anwar juga tetap dianggap sebagai pujangga modern angkatan 45, meski kemudian kabar kurang menyenangkan hadir di tengah generasi yang sudah menempati ruang modern. Ditemukan data yang menunjukkan penurunan jumlah penikmat puisi. Tahun 2022 survei audiensi global menunjukkan terdapat sembilan koma dua persen orang dewasa membaca puisi selama setahun terakhir, data ini menunjukkan penurunan sebanyak tiga persen jika dibandingkan dengan tahun 2017. Berbagai faktor mempengaruhi penurunan jumlah ini, salah satunya yaitu kurangnya kemampuan dalam memahami bahasa.
Selain itu, anggapan bahwa puisi identik dengan bahasa yang berat dan pesannya jadi sulit dimengerti menjadi pelengkap mengenai alasan turunnya jumlah penikmat puisi. Meski tiga persen dianggap sebagai angka yang kecil dan tidak terlalu mengambil peran, tetapi tidak bisa dipungkiri tanpa adanya kesadaran dan tindakan menginisiasi perubahan, maka tidak menutup kemungkinan angka ini akan terus merambat naik.
Beriringan dengan dunia yang terus bergerak, dan zaman yang tidak mengenal tidur, berbagai pihak diharapkan mulai menyadari bahwa puisi bukan hanya dibaca ketika ingat Chairil Anwar, bukan hanya dibaca ketika sedang dimabuk asmara, tetapi puisi merupakan bagian yang tidak bisa diabaikan kehadirannya dari budaya dan sastra di Indonesia. Bukankah terlalu mengerikan jika di kemudian hari tidak lagi ditemukan penikmat puisi hanya dikarenakan kurangnya pemahaman pada bahasa dan pesan yang disampaikan.





