klikdinamika.com

Haikal Al-Fiqri, Raih Predikat Wisudawan Terbaik dengan IPK 3,97 dan 18 Publikasi Ilmiah

Haikal

Sumber Foto: Nina Atifa/DinamikA

klikdinamika.com—Haikal Al-Fiqri, mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUADAH), meraih predikat wisudawan terbaik di UIN Salatiga, Sabtu (25/4/2026).

Haikal menyampaikan bahwa dirinya meraih predikat mahasiswa terbaik dengan IPK 3,97 serta 18 publikasi ilmiah terindeks nasional, meski tidak seluruh prestasi masuk dalam kategori tersebut. Ia juga menuturkan memiliki pengalaman di bidang karya tulis ilmiah di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, hingga UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

“Untuk IPK Alhamdulillah dapat tertinggi se-universitas, 3,97. Publikasi karya ilmiah sekitaran 18 jurnal sudah terbit di Sinta, terindeks. Namun, masih ada 10 sampai 15 prestasi yang tidak masuk kategori,” terangnya.

Di samping aktivitas akademik, Haikal mengaku aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan yang turut mendukung pengembangan diri dan jejaring sosialnya.

“(Saya aktif dalam: red) JQH Al-Furqan UIN Salatiga, PK IMM Jamaluddin Al-Afghani, PC IMM Kota Salatiga, serta KPMDB Kota Salatiga,” sebutnya.

Keterlibatannya dalam organisasi tersebut berjalan beriringan dengan aktivitas lain. Haikal juga mengisi waktu dengan mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) serta membuka les privat untuk berbagai jenjang pendidikan.

“Saya lebih ke ngajar di TPQ, les privat, di TK, SD, SMP. Saya pernah semua melewatinya, lebih ke ngajar di Al-Quran,” jelasnya.

Dalam menjaga konsistensi akademik di tengah berbagai aktivitas, Haikal menekankan pentingnya manajemen waktu dan penentuan prioritas sebagai kunci utama.

“Atur prioritas kita, kemudian juga ke depannya mau seperti apa. Memang semua yang kita lalui tidak akan langsung kita dapatkan hasilnya,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa mempertahankan nilai bukan hal yang mudah dan membutuhkan strategi belajar.

“Itu sangat perjuangan dan susah sih. Satu, kalau misal memang kita bener-bener nggak bisa ikut perkuliahan, izin dengan surat. Yang kedua, sebelum kita masuk kelas silahkan pelajari dulu materi yang memang ada, kadang kala mahasiswa teledor dengan hal itu,” ungkapnya.

Haikal juga mengakui bahwa rasa malas tetap menjadi salah satu tantangan selama menjalani proses studi, khususnya dalam kegiatan penelitian dan penulisan ilmiah.

“Rasa malas itu pasti ada, tapi saya ingat lagi bagaimana perjuangan yang sudah saya lewati,” ungkapnya.

Dengan capaian tersebut, Haikal berharap mahasiswa dapat terus mengembangkan potensi yang dimiliki serta berani mencoba berbagai peluang prestasi selama masa perkuliahan.

“Lebih rajin. Coba malasnya itu dihilangkan, lebih banyakin prestasinya apa saja yang dimiliki. Potensi apapun, bakat apapun, silakan dikembangkan. Dan jangan sampai merasa minder ketika mengikuti lomba,” pesannya. (Nina Atifa/Red)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *