Sumber Foto: Fajar/Istimewa
Klikdinamika.com – Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) bersama dengan Konsorsium Pembaruan Agraria Jawa Tengah dan juga berbagai komunitas di Salatiga, menggelar Festival Tani Muda perdana dengan tema “Tanah Dikuasai Rakyat, Masa Depan Digarap Tani Muda”, Minggu (9/8/2026).
Festival berlangsung selama empat hari, dimulai pada 7—10 Agustus 2026. Berbagai pertunjukan seni dari banyak komunitas serta sanggar turut memeriahkan berjalannya acara. Selain itu diadakan pula diskusi dan workshop sebagai ajang edukasi bagi peserta.

Purwanto, ketua panitia festival mengatakan bahwa tujuan diadakannya festival adalah sebagai sarana untuk mengedukasi serta mentransformasikan nilai-nilai perjuangan reforma agraria yang belum selesai kepada para anak muda.
“Reforma agraria—jauh sebelum Indonesia merdeka sampai sekarang—masih belum terselesaikan, sementara pelaku utama, korban dari penindasan itu sekarang sudah tua-tua, makanya kita akan memberikan pemahaman transformasi nilai-nilai soal tadi (red: reforma agraria), dari yang tua ke yang muda itu,” ujarnya.
Lebih lanjut, Purwanto berharap dengan diadakannya festival ini, maka stigma negatif di masyarakat terkait dengan gerakan reforma agraria dapat terhapuskan,“Reforma agraria itu kan menjadi stigma yang negatif yang dulu diidentikkan dengan PKI, dengan komunis. Saya kira dengan model kayak gini (red: festival) orang lebih melihat reforma agraria itu hal yang biasa, nggak perlu ditakuti,” lanjutnya.
Arum, pemateri lokakarya pembuatan kompos organik dari komunitas Maiasora, mengaku senang dengan adanya festival tani muda ini. Kata Arum, festival tidak hanya berisi pertunjukan saja, tetapi banyak kegiatan yang mampu mengedukasi.
“Senang Sekali, banyak juga workshop-nya ya nggak cuman hanya performance atau apa, tetapi banyak edukasinya, terus memang perlu regenerasi karena sekarang langka banget ada anak muda yang mau bertani,” ungkapnya.

Arum sedang mengisi workshop
Nana, salah satu pengunjung festival mengungkapkan jika dirinya mendapatkan manfaat dari diadakannya festival kali ini, terutama dari kegiatan workshop yang ia ikuti.
“Hari ini tadi juga ada workshop bikin kompos itu juga seru sih, dan itu sangat aplicabel kalau misalkan kita bawa pulang kembali ke tempat kita masing-masing, terus mempraktekkan composting itu,”ujarnya.
Nana berharap, bagi para pengunjung yang datang ke acara festival agar dapat lebih sadar akan pentingnya kehadiran para petani dalam kehidupan mereka.
“Sehingga bisa terus ingat bahwa kita hidup di sini itu ada yang menghidupi kita, yaitu sumber-sumber pangan kita yang selama ini diproduksi oleh para petani,” ujarnya. (Rifda/Red).





