Ilustrasi: Aulia Ulfa/DinamikA
Oleh: Sovia Bahirotun Nafsiyah/Inisnu Temanggung
Identitas Buku:
Judul : Sebelum Memori Membusuk Bersama Kota Ini
Penulis : Khoirul Atfifudin
Penerbit : Universitas Balakarta
Jumlah Halaman : v +143 halaman; 13 x19 cm
Cetakan : Cetakan pertama, Januari 2026
Lahir dan tumbuh dewasa di Kabupaten Temanggung mendorong Khairul Atfifudin untuk menulis buku dengan judul Sebelum Memori Membusuk Bersama Kota Ini sebagai bentuk rasa cinta dan bagian dari tanggung jawab moral untuk Temanggung. Buku ini berisi 27 esai catatan personal penulis dan hal-hal mengenai Temanggung yang berceceran di berbagai platform.
“Beberapa hal perlu kucatat sebelum memori membusuk bersama kota ini” ialah penggalan lirik awal lagu “Membebaskan Hujan dari Tirani Puisi”—Morgue Vanguard, yang diambil menjadi judul buku ini. Di sini pembaca bebas menafsirkan sendiri alasan penulis mengambil judul tersebut. Saya—sebagai pembaca, memaknai pengambilan judul tersebut karena “mencatat” lebih penting daripada “mengingat”, apalagi kenangan penulis semasa tumbuh di Kabupaten Temanggung yang kelihatannya ayem tentrem ternyata menyimpan berbagai persoalan, sehingga ia lama-lama menjadi ruang yang menggerus ingatan.
Buku ini menjadi bentuk upaya mempertahankan makna dengan melawan lupa di tengah ruang yang menghancurkan ingatan. Hal ini diperkuat dengan pengakuan penulis dalam Kata Pengantar dengan menyampaikan bahwa membukukan 27 esai yang berceceran merupakan bagian dari arsip serta mengutip dari Pidi Baiq, “Waktu membuat lupa, tapi tulisan akan kembali mengingatkannya”.
Buku ini terdiri dari dua bab dan diterbitkan secara mandiri oleh Universitas Balakarta—sebuah lembaga berbasis kolektif yang memiliki fokus terhadap pendidikan alternatif di Temanggung sejak 27 Mei 2023, sehingga seluruh keuntungan buku ini didedikasikan oleh penulis untuk pengembangan lembaga ini.
BAB I: Cerita
Di bab ini memuat cerita mengenai pengalaman personal penulis sebanyak 15 esai, seperti mengikuti Jamnas C70 di usia 14 tahun ke Jatinangor, kehidupan di Jogja serta soal keluarga, mengapa Gudang Garam tidak membeli Tembakau Temanggung sementara Temanggung memiliki pelabelan “Kota Tembakau”, juga soal Tembakau Srintil Emas Hitam yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebab kualitas dan kelangkaannya, penelusuran menemukan hidden gem Glapansari serta Sejarah Prabu Angling Dharma.
Salah satu esai yang menarik di bab ini adalah esai berjudul “Belajar di Jogja”. Esai yang penulis ceritakan mengenai betapa senangnya merasai ekosistem kehidupan kuliah lalu bekerja di Kota Pelajar itu, juga merasa terfasilitasi untuk berkembang, berjumpa serta berinteraksi dengan banyak orang. Ilmu dan wawasan otomatis didapat. Namun, penulis mengakui tidak selamanya kota membuatnya berkembang, ia akan kembali ke Temanggung. Hal ini memperlihatkan bentuk cinta penulis terhadap daerah asalnya. Membentuk dan merawat lembaga berbasis kolektif Universitas Balakarta juga merupakan bentuk cinta, tanggung jawab moral, dan intelektual penulis terhadap Temanggung. Ibarat pepatah, “Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik juga di negeri sendiri!”
BAB II: Gugatan
Bab ini memuat esai penulis terkait hal-hal yang menyangkut Temanggung dengan harapan dalam 12 esai tersebut ada yang memang relevan. “Gugatan” diambil menjadi judul di bab kedua, sebab penulis membebaskan pembaca menganggap tulisan-tulisan tersebut sebagai kritik, protes, ataupun yang lainnya. Temanggung yang terlihat adem ayem aslinya memiliki banyak persoalan, seperti Alun-Alun Temanggung yang eksistensinya sama seperti kuburan karena sama-sama “sepi”-nya, Proyek Strategis Nasional (PSN) pengadaan Bendungan Bodri juga urgensi pembangunannya yang tak jelas, Ormada (Organisasi Mahasiswa Daerah) Temanggung yang dirasa tak memiliki program kerja jelas sehingga lebih baik dibubarkan, Temanggung lebih membutuhkan universitas ketimbang tol dan bandara, polemik pemilu serta pilkada di Temanggung, dan lain sebagainya.
Buku Sebelum Memori Membusuk Bersama Kota Ini tak hanya kumpulan catatan personal, tapi juga mengangkat banyak isu sosial—di Temanggung utamanya. Buku ini ditulis menggunakan gaya bercerita penulis dengan berbagai suasana sesuai tema dan judul dari 27 esai. Penulis kadang menjadi pengamat, penyampai kabar dari orang-orang biasa, dan sesekali meledak-ledak.
Buku ini unik dan menarik karena dalam penulisannya menceritakan pengalaman pribadi penulis dibarengi dengan memperlihatkan permasalahan yang ada di Temanggung menggunakan gaya bercerita. Bersama buku ini penulis mengisi hidup dengan dampak melalui tulisan, mengingat apa yang disampaikan Pramoedya Ananta Toer dalam buku Anak Semua Bangsa halaman 280, “Jelas menulis bukan hanya untuk memburu kepuasan pribadi, menulis juga harus mengisi hidup”, buku ini juga memuat pelajaran hidup sehingga pembaca akan sadar bahwa hidup itu pilihan!






buku ini terasa seperti arsip kecil yang menolak lupa. Tidak sedang memuja, tidak juga meninggalkan hanya berdiri dan berkata: kota ini layak dipikirkan. Sebagai orang Temanggung, saya merasa disentil dengan cara yang baik.
Dan buku ini Seolah berkata: kalau kita tidak mencatatnya sekarang, nanti yang tersisa hanya cerita yang sudah disaring terlalu rapi.
buku ini terasa seperti arsip kecil yang menolak lupa. buku ini Seolah berkata: kalau kita tidak mencatatnya sekarang, nanti yang tersisa hanya cerita yang sudah disaring terlalu rapi.