Sumber Foto: Mada/DinamikA
Lahan parkir di belakang Fakultas Dakwah tahun 2023
Klikdinamika.com – Kebijakan larangan membawa sepeda motor bagi mahasiswa baru (Maba) selama pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Salatiga 2026 menuai beragam tanggapan. Sebagian mahasiswa menganggap kebijakan itu menyulitkan, Rabu (12/08/2026).
Muhammad Afrizal Firmansyah, ketua panitia PBAK 2026, mengungkapkan alasan pelarangan parkir di lingkungan kampus. Kata Afrizal, pada jam berangkat dan pulang PBAK merupakan waktu puncak kepadatan lalu lintas. Ia juga mengatakan, lahan parkir kampus tidak dapat memuat keseluruhan kendaraan maba dalam satu waktu.
“Kalau dalam satu waktu (red: maba) datang semua, saya rasa (red: tempatnya) belum cukup. Karena memang ada beberapa parkiran yang nantinya digunakan oleh pihak fakultas,” jelasnya.
Mengenai instruksi perihal pelarangan parkir di lingkungan kampus, Afrizal menyebut hal itu atas persetujuan Warek lll, Suwardi.
“Terkait hal itu (red: tidak boleh parkir di kampus), merupakan hasil diskusi internal panitia yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman tahun terdahulu, kemudian disetujui oleh Warek lll dan Kasubag Umum saat rapat koordinasi,” ungkapnya.
Melihat kebijakan tersebut, Sasa, maba Prodi Tadris IPA (TIPA) mengaku berencana tetap datang menggunakan sepeda motor bersama temannya dan mencari lokasi parkir di luar kampus atau menitipkannya di rumah saudaranya. Menurut Sasa, kebijakan tersebut cukup menyulitkan, terlebih ketika tidak ada keluarga yang bisa mengantar.
“Pendapatku kurang worth it sih kak, soalnya kan kita harus berangkat pagi, sedangkan kalau misal harus dianter pas nggak ada motor gitu, gojek juga masih kadang susah, kalau angkutan umum juga kadang belum beroperasi gitu, menurut aku lumayan susah sih,” ujarnya.
Hal tersebut juga menjadi perhatian Jumi’at, pengurus Takmir Masjid Baitussyukur yang berlokasi dekat dengan kampus 3 tempat PBAK dilaksanakan. Ia mempersilakan mahasiswa baru parkir di area masjid karena banyak mahasiswa baru kebingungan mencari tempat parkir karena kebijakan tersebut.
“Yang kami ketahui itu memang setiap maba nggak boleh bawa sepeda motor, terus kami dari masjid juga merasa kasihan misalkan orang jauh dan dari pihak keluarga mungkin nggak bisa nganter. Sepeda motor kalo ditaruh di sembarang tempat kan rawan. Ya monggo parkir di sini,” katanya.
Di tengah kebijakan tersebut, berbagai tawaran penginapan PBAK dari organisasi ekstra (Ormek) dan organisasi daerah (Orda) bermunculan sebagai solusi bagi mahasiswa baru yang terkendala transportasi.
Arina, mahasiswa baru prodi Psikologi Islam, menilai keberadaan penginapan lebih efisien bagi mahasiswa karena mengurangi risiko keterlambatan dan kelelahan saat pulang.
“Karena nanti waktu berangkat bakal kayak bareng-bareng jadinya mengurangi hal buruk terjadi, pulangnya agak larut jadinya takut kita udah capek,” ungkapnya.
Berbeda dengan Arina, Sasa berpendapat bahwa kegiatan tambahan penginapan PBAK di malam hari akan mengurangi waktu istirahat.
“Menurut aku kalau malamnya ada kegiatan kan waktu istirahatnya kurang ya, soalnya acara juga dari pagi sampai sore,” ujarnya. (Danil/Kamal/Red).





