Sumber Foto: Teresa/Istimewa
Oleh: Ahwalul Aliatil Munifah
Warga Kampung Pancuran di zaman dahulu memilih nama kampung lain ketika ditanya dari mana asal rumah mereka. Nama Pancuran di Salatiga sudah terlanjur identik dengan tawuran, perjudian, hingga premanisme. Kampung yang berada di tengah kota itu bahkan sampai dikenal sebagai wilayah yang keras dan rawan kriminalitas.
Meski demikian, keadaan tersebut perlahan mulai berubah. Gang-gang sempit yang dulunya dianggap menyeramkan, kini dipenuhi mural-mural warna-warni, aktivitas seni, hingga warga Kampung Pancuran semakin terbuka terhadap para pendatang. Kampung Pancuran yang dulunya dijauhi, kini justru ramai dikunjungi oleh mahasiswa, peneliti, hingga wisatawan.
Menurut Jurnal Pariwisata Tawangmangu, Kampung Pancuran ditetapkan menjadi Kampung wisata pada 1 November 2018 oleh H. Yulianto, S.E., M.M sebagai Wali kota Salatiga saat itu. Perubahan tersebut pastinya tidak datang secara instan. Di balik transformasi Pancuran ada proses panjang yang dibangun, melalui gotong royong serta upaya kolektif masyarakat untuk mengubah wajah kampung mereka sendiri.
Lahirnya drumblek turut melatarbelakangi perubahan energi sosial masyarakat dari budaya keroyokan hingga menjadi kreativitas. Dilansir dari Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, awal mula drumblek berasal keinginan warga Pancuran untuk memeriahkan peringatan Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-41 dengan membentuk marching band. Namun, karena keterbatasan dana, warga berinisiatif memanfaatkan barang-barang bekas sebagai alat musik.
Kampung Keras di Tengah Kota
Secara geografis, Kampung Pancuran dulunya berada di kawasan strategis yang dikelilingi pasar dan terminal. Kondisi inilah yang menyebabkan Kampung Pancuran memiliki kehidupan masyarakat sosial yang keras. Menurut data dari Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, sebelum menjadi kampung wisata, Kampung Pancuran juga masuk dalam kriteria kawasan kumuh dengan luas wilayah 0,689 km dan jumlah rumah 4.429 unit dan kepadatan bangunan berkisar 64 unit, dengan kepadatan bangunan sebesar 57.3%.
Edy Prasetyo, Ketua RW Pancuran, mengatakan kehidupan di sekitar terminal membuat masyarakat Pancuran terbiasa menghadapi situasi yang penuh konflik dan persaingan konflik hidup. “Pancuran dulu memang keras. Di sekeliling pasar dan terminal semua,” ujarnya.

Sumber Foto: merdeka.com
Edy Prasetyo juga menambahkan bahwa tawuran antar kampung dahulu memang menjadi hal yang biasa terjadi. Bahkan, hampir setiap ada acara besar seperti malam tahun baru atau takbiran, bentrokan antarkelompok itu sering muncul. “Itu hampir setiap minggu gitu, itu pasti terjadi. Kemudian kalau misalkan ada tahun baru atau takbiran pasti rame, itu pasti ada yang berkelahi, tawuran pasti ada juga,” kata Edy saat diwawancarai pada (16/5/2026).
Tidak hanya tawuran, kegiatan perjudian, minuman keras, hingga narkoba juga pernah tumbuh subur di lingkungan tersebut. Stigma negatif terhadap Kampung Pancuran begitu kuat hingga sebagai warga enggan mengaku berasal mengaku dari kampung tersebut.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Purwadi. Ia menilai bahwa kehidupan keras itu muncul karena kampung Pancuran terletak di pusat aktivitas ekonomi kota dan berdampingan langsung dengan terminal. Menurutnya, kampung-kampung di sekitar terminal pada masa itu memang identik dengan kehidupan jalanan yang keras dan dipenuhi para pendatang dari berbagai daerah.
“Sebenarnya tidak hanya Pancuran. Kampung-kampung yang dekat pasar dan terminal di kota-kota besar rata-rata memang keras karena banyak pendatang yang datang dan berganti-ganti,” ujar Purwadi saat ditemui pada (16/5/2026).

Sumber Foto: Jurnal Teknik PWK
Solidaritas yang Pernah Salah Arah
Dibalik citra negatif Kampung Pancuran, masyarakat kampung tersebut sebenarnya memiliki solidaritas yang tinggi. Namun solidaritas itu dulu sering digunakan dengan cara yang keliru. Dalam jurnal Bukit Pengharapan, solidaritas pada masa tersebut sering digunakan untuk membentengi diri dari luar atau mendukung kegiatan kelompok yang keliru.
Didik Subiantoro, Seniman sekaligus sesepuh Kampung Pancuran mengatakan, budaya gotong royong warga Pancuran sebenarnya sangat kuat sejak dulu. Tetapi, rasa solidaritas tersebut sering pakai untuk membela kelompok tanpa memandang salah atau benar. “Yang jadi buruk karena nilai gotong royong ini tidak membedakan benar-salah,” kata Didik.
Ia menjelaskan, ketika terjadi konflik, warga akan saling membantu dan membela kelompoknya. Kebiasaan tersebut kemudian membentuk citra Pancuran sebagai kampung yang keras dan identik dengan premanisme.
Meski demikian, Didik menilai solidaritas itulah yang akhirnya menjadi modal utama perubahan sosial Pancuran. Energi kebersamaan yang dulunya identik dengan keroyokan perlahan menjadi kegiatan yang diisi dengan nilai positif dan kreatif. “Gotong royong sebenarnya dari dulu sudah kuat. Tinggal bagaimana mengarahkan ke hal-hal yang positif,” lanjut Didik.
Berdirinya Drumblek Sebagai Awal Perubahan
Didik mengatakan, awal mula berdirinya drumblek muncul sekitar tahun 1986 dan mulai dikenal di masyarakat tahun 1988 pada peringatan hari kemerdekaan RI di Salatiga. Menurutnya, awal mula drumblek lahir dari kegiatan sederhana warga saat perayaan agustusan. Saat itu panitia kampung memiliki sisa dana sekitar Rp.80.000 yang awalnya disiapkan untuk pembubaran panitia. Namun, karena ada permintaan dari pemerintah kota agar warga Pancuran mengikuti karnaval kemerdekaan, dana tersebut akhirnya dimanfaatkan untuk membuat pertunjukan sederhana.
“Akhirnya ya dari situ secara spontan memanfaatkan dana Rp.80.000 ini untuk kegiatan karnaval,” ujar Didik.

Barang-barang bekas seperti tong sampah, kemudian diubah menjadi alat musik sederhana. Dari keterbatasan itulah drumblek lahir dan berkembang menjadi identitas budaya Pancuran hingga sekarang.
Sehingga kesenian tersebut perlahan mengubah energi sosial masyarakat Pancuran. Solidaritas yang dulunya identik dengan tawuran mulai diarahkan menjadi kreativitas dan kekompakan warga.
Dari Kampung Preman Menjadi Kampung Mural
Transformasi besar kembali terjadi pada tahun 2018 ketika Pancuran mulai dikembangkan menjadi kampung mural. Berawal dari proposal kepada perusahaan cat dan dukungan pemerintah kota, warga mulai mengecat dan menghias kampung mereka secara gotong royong. Proposal tersebut ternyata disambut baik oleh Dinas Wali Kota Salatiga dan PT. ICI (Imperial Chemical Industries) Indonesia dengan memberikan dukungan berupa cat merek Dulux sekitar 3000 liter dengan berbagai jenis warna.
Eddy Supangkat, sejarawan lokal Kampung Pancuran menilai transformasi tersebut berhasil mengubah citra Pancuran di mata masyarakat luar. “Kampung yang dulu dianggap ‘mboseni’ (membosankan) sekarang berubah menjadi kampung seni. Orang sekarang datang untuk melihat mural dan kegiatan kreatif warganya,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan fisik seperti mural dan pengecatan kampung hanyalah pintu awal untuk menarik perhatian masyarakat luar. Di balik itu perubahan sosial jauh lebih penting, yaitu tumbuhnya kesadaran warga untuk membangun kampung bersama-sama.
“Perubahan yang paling penting sebenarnya bukan catnya atau muralnya, tapi perubahan cara berpikir masyarakat Pancuran sendiri,” ujarnya kepada DinamikA melalui pesan whatsapp, sabtu (16/5/2026).
Perubahan wajah Kampung Pancuran perlahan mengubah pandangan masyarakat luar. Mahasiswa, peneliti, hingga wisatawan mulai datang untuk melihat mural, kegiatan seni, maupun kehidupan sosial masyarakat Pancuran.

Hingga pada tahun 2018 diresmikannya Kampung Pancuran sebagai Kampung Wisata Pancuran (KWP) dengan ikon Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Tirta Pelangi, dan Landmark Titik Nol (Zero Point) Pancuran, dilansir dari Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota.
Purwadi mengatakan, Warga Pancuran bukan hanya orang-orang kampung dan pasar tinggal lintas. Mau tidak mau Kampung Pancuran harus menjadi lebih rapi, meskipun masih belum dikatakan baik, tetapi Kampung Pancuran ini menjadi layak.
“Syukurnya kita, kampung jelek itu menjadi syukur, karena kita mampu berubah 10 tahun ini, mulai 2017 kita bergerak terus, akhirnya mencoba berubah,” kata Purwadi.
Perubahan terbesar yang dirasakan warga Kampung Pancuran adalah munculnya rasa bangga terhadap kampung mereka sendiri. “Bangganya karena yang kemarin hanya sebuah kerumunan banyak orang tapi sekarang itu sekalipun tidak semuanya tapi menjadi barisan, sehingga bisa diajak komunikasi bareng, gotong royong, pikul bersama, itu menjadi kesadaran bersama meskipun tidak tertulis,” pungkasnya.
*Liputan ini merupakan hasil terpilih dari Pendidikan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) yang diadakan oleh LPM DinamikA pada 14–17 Mei 2026. Liputan dapat dibaca rubrik Hasil Pendidikan Kelompok 4 dengan Judul Majalah “Menilik Ulang Sejarah dari Ombang-Ambing Arus Modern”





