klikdinamika.com

Kala Kuas tak Mampu Menyampaikan, Pencarian Makna Sabar Subadri Lewat Tulisan

Wawancara dengan Sabar Subadri (Sumber Foto: Anas/DinamikA).

Oleh: Kamal Mustofa


Keindahan tak selalu berasal dari kesempurnaan. Sabar Subadri, begitulah nama pelukis kaki kelahiran Salatiga tahun 1979. Jari kakinya lincah meliuk-liuk memainkan kuas di atas kanvas. Pria yang akrab disapa Sabar ini merupakan salah satu anggotaAssociation of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA), organisasi pelukis kaki dan mulut tingkat internasional berpusat di Liechtenstein, Swiss. Tidak sampai di situ, seiring perjalanannya pun, ia menemukan kegemaran baru melalui kertas dan pena yang dapat menunjang kesempurnaan pesan lukisannya.


Memupuk Naluri menjadi Profesi


Mula-mula, Sabar aktif mencoret-coret sisa-sisa kapur di sekolah ketika belia. Kebiasaan itu didukung orang tuanya sebagai bakat hingga berkembang menjadi pelukis. Namun, Sabar sendiri mengaku bahwa melukis bukanlah bakatnya, ia mengatakan bahwa corat-coret itu hanyalah naluri anak kecil pada umumnya.


“Saya jadi pelukis itu sebenarnya semacam dorongan dari luar, dari lingkungan, dari orang tua, dari sekolah, bukan bakat. Tapi karena kami tinggal di lingkungan sekolah, banyak sekali cuilan kapur disitu. Saya secara naluriah mengambil kapur-kapur itu untuk mengotori emperan kelas,” terangnya.


Meskipun begitu, Sabar tetap menggiatkan keahlian melukisnya sampai pada perjumpaannya dengan AMFPA. Dalam asosiasi tersebut, Sabar menjalin kontrak dengan ketentuan mengirimkan 12 karya setiap tahunnya. Kewajiban Sabar tiap tahunnya adalah mengirimkan karyanya nun jauh ke Swiss, yang nantinya akan didistribusikan melaluipublisher AMFPA yang berdiri di beberapa negara. Sapuan warna-warni lukisan Sabar dimuat dalam produk cetak, seperti kartu ucapan, kalender, pembatas buku, dan cetakan lainnya.


Selain memenuhi kewajibannya dalam asosiasi, Sabar juga melukis terinspirasi dari bacaan buku. Teori psikologi Carl Jung contohnya, tokoh Swiss tersebut menginspirasi Sabar dalam lukisannya. Lukisan pulau di tengah hamparan air menggambarkan ego individu yang terpisah mandiri dari kesadaran kolektif.

Sabar Subadri menulis dikertas (Sumber Foto: Anas/DinamikA)

Bermodal kreativitas dan kelihaian kaki, Sabar membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak mengurangi gairah untuk selalu berkarya. Sabar yakin bahwa melukis memberi arti kepada hidupnya.


“Aku yakin (melukis) ini memberiku arti di dalam hidup. Aku bisa mengartikan, aku bisa memberi makna pada hidupku. Dan juga kemudian jika aku menemukan makna lewat karya ini aku bisa share,” ungkap pria berkacamata tersebut.


Laut Tenang Tak menghasilkan Pelaut Ulung


Selama menjalani hidup sebagai pelukis, Sabar tentunya juga tak lepas dari komentar-komentar miring yang diberikan ke dirinya. Sabar pernah dinilai terlalu lama soal teknik dalam melukis, Sabar terlalu bertele-tele. Seperti itulah kiranya. Namun, bagi Sabar sendiri durasi lama itulah yang membuatnya tak pernah melewatkan detail sekecil apapun.

“Seharusnya cepat selesai tapi pilih cara yang rumit. Nah, pikirku ya memang kelebihanku disitu. Bagiku setiap senti dari kanvas itu harus aku kuasai. Bahwa tidak boleh ada yang aku lewati karena efek ketidaksengajaan,” jelasnya.


Sebagaimana manusia berkehidupan sosial pada umumnya, Sabar tak terhindar dari persoalan asmara. Di sela-sela karirnya sebagai pelukis, ia tak sedikit mengalami penolakan dari lawan jenis. Hal itulah yang membuat seniman Salatiga ini terkadang merasa down.


“Aku bertanya terus, ‘ngapain aku melukis? Kalau nggak ada orang yang aku perjuangkan’. Terus buat apa aku melukis disitu. Pertanyaan itu karena tidak terjawab. Itu yang membuat down. Tetapi di sisi lain, bukankah ini juga layak disyukuri. Nah, disitu ketika melihat sisi baiknya. ‘Aku juga bermanfaat lho bagi orang lain’. Nah, disitu aku tetap bisa bangkit lanjut,” tegasnya.


Secara teknis pun, Sabar juga mendapati halangan terjal. Pada awal masa-masa ia melukis, Sabar menggunakan cat minyak untuk lukisannya. Sejak lahir, Sabar mengidap anosmia bawaan, yaitu kondisi ketika hidung tak dapat menjalankan fungsinya dalam membau. Cat-cat minyak yang ia gunakan ternyata mengandung banyak zat kimia yang masuk melalui hidung.


“Minyak-minyak itu masuk ke paru-paruku tanpa hidung ini memberi tahu. Tanpa ada sinyal tiba-tiba dia sudah masuk paru-paru. Dan itu berlangsung tahunan. Itu membuat paru-paruku rusak,” sesalnya.


Karena kendala kesehatan dan material, ia beralih ke cat akrilik. Pastinya penggantian bahan lukisan memerlukan waktu untuk beradaptasi. Sesuai namanya, ia tetap sabar menjalani perannya sebagai apa seniman dengan material baru tersebut. Tetapi bukan sabar jika tak ada tantangan, setelah berhasil menguasai cat akrilik, ia meraih cat air sebagai bahan lukisannya. Sabar berprinsip, hidup itu singkat, maka sia-sialah apabila tak mencoba hal baru.


Apresiasi, Inspirasi, dan Mimpi


Tak hanya sekali dua kali ia unjuk diri dalam pameran. Salah satunya pameran Jogja Galeri tahun 2013 lalu, yang bertajuk Natura Esoterika. Dalam pameran di Mall Ciputra Semarang pada Desember 2019 silam, Sabar menuai pujian dari Ganjar Pranowo. Ganjar terpukau oleh kemahiran pelukis tanpa tangan ini, ia menyebutnya skill sikil. Bahkan Ganjar sempat membeli dan memajang lukisan Sabar di rumahnya.


“Ini pernah dilontarkan oleh Pak Ganjar Pranowo. Beliau salah satu yang membeli lukisanku. Dia beli satu lukisanku. Dan ketika itu dipajang di rumah dia, ada tamu gitu, digunakan untuk diskusi. Ini dibikin dengan kaki lho. Kamu jangan kalah dalam berproses pekerjaanmu. Bukan sebagai pelukis, tapi sebagai birokrat, sebagai apapun,” kenangnya.


Sabar mengisahkan bahwa ia mewarisi gaya lukisan hingga saat ini terinspirasi dari mendiang pelukis idolanya. Rustamadji, pelukis asal Klaten yang sama-sama tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) bersama guru privatnya. Sabar mewarisi konsep lukisan yang sederhana, tidak muluk-muluk namun menyentuh dari Rustam tersebut.

Harapan kedepannya, Sabar sebagai pelukis merasa tidak cukup puas saat lukisannya hanya dilihat dan dikagumi. Ia memiliki harapan akan adanya diskusi mendalam tentang makna-makna dalam lukisannya tersebut.


“Jadi lukisan itu jangan cuma dilihat, ‘oh ya bagus’ gitutok. Nggak puas. Pelukis kalau cuma, ‘oh ya bagus’. Rasanya banyak hal sia-sia, miss gitu. Jadi ayo kita diskusi,” ajaknya.


Tak Cukup Satu Jalan


Selain produktif dalam karya visual, Sabar juga aktif berkarya verbal. Baginya, carut marut isi kepala tak pernah cukup diekspresikan hanya dengan satu medium. Ketika kuas dan kanvas tak lagi dapat menyampaikan makna-makna, disitulah Sabar beralih ke kertas dan pena. Sabar menemukan bakatnya dalam hal menulis, ketika ia terjun di jurusan Sastra Inggris Universitas Terbuka (UT) Surakarta. Di samping itu, menurutnya kata-kata lebih lugas dan eksplisit dalam menyampaikan kehendak.


“Tapi kalau seperti (lukisan) ini, kalau aku nggak menguraikan kata-katanya mereka nggak nangkep. Ini maksudnya apa? Maka medium verbal, cerpen, novel gitu itu kadang perlu, saat itu aku merasa perlu ini harus dicoba. Harus ada artikulasi yang lebih elaboratif, lebih gamblang. Maka aku menulis. Entah fiksi, entah non fiksi,” ungkapnya sembari menunjuk salah satu
lukisan.

Buku Sejarah karya Sabar Subadri (Sumber Foto: Anas/DinamikA)

Tulisan ciptaan Sabar ini beragam, mulai dari Selo Tigo yang merupakan fiksi sejarah kota Salatiga, fabel-fabel, Tanpa Mimpi, dan berbagai karya sastra baik itu fiksi maupun non-fiksi. Sabar berencana membuat narasi di tiap-tiap lukisannya, agar setiap orang memahami makna dari renungan yang ia tumpahkan ke kanvas.


“Aku harus nulis setiap makna dari lukisanku. Jadi nanti ketika aku wes mati. Orang lihat itu bukan cuma lukisan orang nelayan lempar jala lho. Tapi apa sih? Ini kan belum tak tulis ini narasinya. Berarti aku harus nulis narasinya itu,” jawabnya ketika diwawancarai DinamikA di kediamannya, Klaseman (17/12).


Salah satu bentuk produk visual-verbal yang ia ciptakan adalah Epic Fantasy, ia bereksperimen membuat lukisan aliran baru. Lukisan bergambar perempuan dengan latar hutan pegunungan hanyalah salah satu dari proyek 5 lukisan cerita berkelanjutan yang ia kira-kirakan selesai dalam 10 total lukisan. Sabar tak mungkin dapat menciptakan aliran lukisan seperti ini jika ia tak memiliki dasar sastra yang ia peroleh dari kuliahnya.


Sedangkan dalam fabelnya, Sabar merasa dapat menyampaikan persoalan hidup tanpa menyinggung siapapun melalui karakter binatang yang ia hidupkan.


Pendistribusian buku karya Sabar ini ia cetak secara mandiri pada awalnya, tentunya memakai dana pribadi. Selanjutnya ia akan mempromosikan bukunya lewat Facebook hanya beberapa eksemplar. Ia tidak menyebarkan dalam skala luas agar seluruh penjuru Salatiga mengenalnya.


Dari kedua jenis produk yang ia ciptakan, verbal dan visual. Sabar merasa lebih dapat berekspresi melalui kata-katanya. Huruf-huruf lebih leluasa menguraikan ganjalan batin dalam bentuk sarkasme, analogi, dan lainnya. Sabar menggunakan kata “katarsis”, katarsis adalah proses pelepasan emosi akibat konflik batin agar mencapai ketenangan emosional.


“Sebenarnya tulisan itu lebih—lebih apa ya dalam psikologi itu—katarsis. Katarsis itu saluran keluar. Kalau ada ganjalan tuh tulisan itu lebih bisa mengeluarkan ganjalan di dalam jiwa kita ketimbang lukisan,” pungkasnya.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *