Ilustrasi: Rifda/DinamikA
Oleh: Mahya Azka
Ia membangun tawa,
Di halaman-halaman hariku
Lalu pergi,
Sebelum sempat membacanya
Aku masih menyimpan
Jejak langkahnya
Wangi mint dari tubuhnya,
Dan senyumnya ketika berbicara
Sementara ia,
Telah mengganti jalan pulang.
Barangkali,
Aku hanyalah musim
Yang singgah sebentar
Di kalender hidupnya
Namun, bagiku ia rumah
Yang alamatnya tak pernah berubah
Aku masih mengeja nama nya
Di malam-malam panjang itu
Sedang ia mungkin
Telah lupa siapa namaku
Bukan sebab aku tak mampu melupakan
Tapi kenangan,
Tak pernah belajar cara berpamitan
Ia tinggal,
Meski pemiliknya
Telah lama menghilang.
Jika suatu hari kita berpapasan
Seperti dua orang yang tak saling mengenal
Biarlah aku menjadi langit senja
Tetap menyimpan warna,
Meski mata yang dahulu mengaguminya
Memilih fajar yang lain
Kau tahu?
Aku hanya belajar mengingat
Tanpa melupakan
Jadi kau boleh lupa,
Tapi aku memilih tuk mengenangnya.




