Tukiyem, telah bekerja di pabrik jenang selama 28 tahun
Sumber Foto: Sabil/Istimewa
Oleh: Devi Kartikasari
Klikdinamika.com – Di tengah pemukiman desa berdiri sebuah bangunan besar yang tidak disangka adalah rumah sekaligus tempat produksi jenang ternama sekitar Salatiga. Di dalamnya berdiri dua perempuan tua dengan tubuh yang sedikit membungkuk. Tangan mereka menggenggam pengaduk kayu panjang, lalu mengayunkannya perlahan namun terus-menerus ke adonan gula dan terigu yang semakin mengental. Sesekali napas mereka terdengar berat. Mereka adalah buruh di pabrik Jenang Wangi yang berada di daerah Kaligintung, Kabupaten Semarang.
Asap putih yang terus menerus keluar dari dalam tungku membuat udara di sekitar dapur produksi terasa pekat dan menyisakan rasa perih di mata serta sesak di tenggorokan. Namun, bagi para buruh di pabrik Jenang Wangi, itu adalah hal yang sama sekali tidak mengganggunya, sebab mereka sudah hidup berdampingan dengan asap tersebut selama bertahun-tahun.
Meski harus bekerja berdampingan dengan asap dan panas tungku, tetapi tidak ada satu pun dari para buruh memiliki keinginan untuk mengundurkan diri. Beberapa di antara mereka mengaku tidak memiliki banyak pilihan pekerjaan lain karena faktor usia dan latar pendidikan yang terbatas.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa diskriminasi dalam dunia pekerjaan masih menjadi tantangan di Indonesia. Faktor seperti usia, latar belakang pendidikan, maupun kondisi sosial kerap memengaruhi akses masyarakat dalam memperoleh pekerjaan yang layak.
Estafet Produksi Kuali Jenang
Dua generasi sudah menemani jatuh-bangunnya pabrik Jenang Wangi. Usaha keluarga itu awalnya dirintis oleh orang tua Sami sebelum kemudian diteruskan olehnya bersama sang adik. “Pertama ibu saya, kedua saya, terus adik saya,” ungkap Sami dalam Bahasa Jawa selaku pewaris generasi kedua pabrik Jenang Wangi.
Sami dengan usia yang hampir menyentuh kepala delapan itu tetap menyambut pembeli dan menemani pekerjanya dengan senang hati. Ia bahkan dengan sukarela menjadi narasumber ketika banyak media mendatanginya untuk melakukan liputan terkait pabrik Jenang Wangi.
Selama ini lebih dari lima sesi wawancara yang telah ia lalui dengan berbagai media yang ada di Indonesia, mulai dari media daerah Salatiga, Solo, Sumatera, hingga Kalimantan. Uniknya, seluruh buruh yang ada di Pabrik Jenang Wangi adalah warga sekitar pabrik itu sendiri, yang mana itu membuat rasa kekeluargaan antarsesama mulai tumbuh secara perlahan.
Sami terjun ke dunia bisnis jenang ketika berusia 65 tahun, ketika ia diberikan tanggung jawab untuk meneruskan bisnis keluarga. “Umur 65 saya sudah disibukkan dengan berjualan, hanya membantu gitu loh,” ujarnya dengan nada yang terdengar menggebu-gebu, seolah ingin menggali kenangan di masa lampau.
Tidak hanya memproduksi jenang, pabrik Jenang Wangi juga memproduksi Wajik Hijau, Wajik Cokelat, dan Krasikan—jajanan khas jawa tengah yang terbuat dari gula jawa. Produksi mereka kerap menjadi tujuan orang-orang ketika akan mengadakan acara lamaran, nikahan, atau acara besar lainnya. Meskipun produk mereka terlihat jadul, tetapi tidak bisa dimungkiri bahwa peminatnya masih cukup banyak. Bahkan dalam sehari mereka dapat memproduksi setidaknya 40 kilogram. Dari yang awalnya mereka hanya memproduksi kurang dari 20 kilogram per hari dan mereka harus berjualan keliling mempromosikan jenangnya, kini tanpa usaha yang membebankan, Jenang Wangi sudah didatangi banyak pembeli.
Meniti Hari dari Balik Tungku
Di era yang sudah serba instan, Pabrik Jenang Wangi tetap teguh pada pendiriannya untuk menolak menggunakan mesin dalam melakukan produksi. Hasilnya, sekarang pekerja yang tersisa hanyalah mereka yang sudah di usia senja, mereka yang lipatan kulitnya sudah terlihat dari jarak tiga meter, mereka yang ketika berjalan selalu melihat ke arah bawah.
“Kalau di sini cuma manual, manual semua, nggak ada yang mesin,” jelas Marti—salah satu pekerja, dengan raut wajah kelelahan.

Sumber Foto: Sabil/DinamikA
Marti mulai bekerja dari pukul 08.00 WIB hingga hari mulai menunjukkan rona jingga di ufuk cakrawala. Dengan usia mereka yang sudah rentan, mereka harus tetap bekerja dengan waktu yang cukup padat. Dari hari senin hingga minggu, dari langit masih berwarna biru memudar sampai langit mulai berganti menjadi warna pekat, mereka tetap berangkat dan pulang dengan rasa bahagia tanpa mengeluh sedikitpun.“Kalau datang itu paling nggak jam delapan mulai kerja, nanti ya pulangnya itu nggak mesti. Terkadang ya jam tiga, jam empat.”
Dibanding dengan Marti yang baru bekerja dua tahun di Pabrik Jenang Wangi, Tukiyem sudah 28 tahun lebih lama. Ia berkutat dengan adonan gula jawa sejak masih berusia sekitar 20 tahun. Namun, perbandingan tersebut tidak berarti apa pun, sebab keduanya sama-sama mencurahkan tenaga dan pikirannya demi menghidupi anaknya yang masih duduk di bangku universitas.
Meski harus bekerja di tengah panas tungku dan asap dapur produksi, mereka yang bekerja di sana sangat berterima kasih dengan adanya pabrik Jenang Wangi, karena bersedia menerimanya tanpa pandang bulu. Hubungan antara pemilik dan pekerja pun terasa dekat karena sebagian besar buruh merupakan warga sekitar pabrik.

Sumber Foto: Sabil/Istimewa
Usaha jenang tersebut kini tidak hanya bertahan di satu tempat. Pabrik Jenang Wangi telah membuka beberapa cabang di wilayah sekitar Salatiga sebagai upaya memperluas pemasaran produknya. Sami mengaku tidak keberatan apabila ada keluarga maupun kerabat yang ingin membuka cabang usaha serupa. Baginya, semakin banyak cabang yang berdiri, semakin luas pula nama Jenang Wangi dikenal masyarakat.
Keberadaan pelanggan tetap serta permintaan yang terus datang, terutama saat musim hajatan dan pernikahan, menjadi alasan usaha ini tetap dipertahankan secara turun-temurun. Di tengah banyaknya makanan modern bermunculan, jajanan tradisional seperti ini masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.
*Liputan ini merupakan hasil terpilih dari Pendidikan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) yang diadakan oleh LPM DinamikA pada 14–17 Mei 2026. Liputan dapat dibaca di rubrik Hasil Pendidikan Kelompok 1 Dengan Judul Majalah “Arus Kecil Gelombang Besar”





