Sumber Foto: Mada/DinamikA
klikdinamika.com – Seni Musik Club (SMC) UIN Salatiga adakan pertunjukan paduan suara angkatan Simporius di Aula kampus 1 UIN Salatiga, acara berlangsung dari sekitar pukul 19.00 hingga 22.00 malam, Kamis (18/6/26).
Acara kali ini dinamakan Sankara dengan tema “Gema Rindu Memanggil Pulang”, hal itu berdasarkan keterhubungan dari nama Sankara sendiri yang berasal dari Jawa kuno bermakna gema atau pantulan suara, yang artinya, selaras dengan gema-gema di pertunjukan paduan suara yang memanggil pulang dengan menampilkan nostalgia dengan lagu-lagu masa kecil.
Pemilihan lagunya pun tak sembarangan, lagu-lagu daerah yang ditampilkan seperti Cublak-Cublak Suweng, Prau Layar dari Jawa Tengah, hingga Kampuang Nan Jauh di Mato dan Bungong Jeumpa dari Sumatera, ditampilkan dengan tujuan mengingatkan para penonton dengan kampung halaman masing-masing.
Fathon, sebagai ketua panitia sekaligus salah satu personel paduan suara, menjelaskan terdapat keselarasan lagu yang dibawakan dengan tema yang dipilih.
“Jadi kan tadi lagu pertama, Cublak-cublak Suweng. Itu lagu pertama itu kita maknain kalau kita yang masih pas kecil nggak mikirin kerasnya dunia, masih mikirin main. Prau Layar tuh ngegambarin kayak sebenarnya lagu ini kan orang yang pergi wisata, tapi kita di sini ngegambarin orang yang pergi merantau,” ujarnya.
Tak hanya di lagu-lagu Jawa, Fathon juga menjelaskan keterkaitan lagu-lagu khas daerah Sumatera, dari Kampuang Nan Jauh di Mato, Bungong Jeumpa, hingga Soleram.
“Di (red: Kampuang Nan Jauh di Mato) Sumatera itu jelasin kayak kemegahan alamnya, kayak kemegahan floranya, itu maksudnya tuh jelasin kayak kemegahan kampung halamannya kita tuh kayak gimana, kalo Soleram itu kita ngerasa pas dulu tuh lagu ini dipake buat nidurin orang kayak (red: lagu) Nina Bobo gitu lah bahasanya,” jelas Fathon.
Intan, salah satu penonton yang juga salah satu teman dari personel paduan suara Simporius pun dibuat takjub dengan harmoni suara yang ditampilkan oleh tim paduan suara. Untuk pengalaman pertama kalinya, ia mengaku takjub melihat penampilan yang terdapat temannya di dalamnya.
“Aku ngerasain gimana dia dari awal selama satu semester ini full latihan-latihan. Terus abis itu dia maju tuh otomatis feeling-nya kayak, wah takjub banget gitu, dia bisa berhasil sampai di titik ini,” ujarnya turut bangga.
Sebagai peserta, Intan berharap tempat yang digunakan untuk pentas lebih luas lagi demi kenyamanan peserta selama acara berlangsung.
“Terus nanti bisa mungkin dikembangkan di tempat yang lebih luas gitu ya. Kukira tuh yang pertama kali mau ikuti ini tuh bakal dibuat letter U, ternyata kan memanjang ke belakang gitu ya,” harapnya.
Namun, sebenarnya hal ini sudah terpikirkan jauh-jauh hari. Sebagai ketua panitia, Fathon merencanakan Sankara ditampilkan di Auditorium UIN Salatiga, sayangnya, momentum seminar secara kebetulan membuatnya mengalah dan akhirnya merelakan auditorium untuk seminar. Kendatipun demikian, Fathon pun juga memilih opsi lain yang sama baiknya, karena Aula Kampus 1, sebagai tempat acara berlangsung dinilai dapat memantulkan gema yang lebih baik.
“Sebenarnya, rumor soal itu benar, dari kepanitiaan sudah pesan buat auditorium. Namun pas hari-H nya kok tiba-tiba diganti. Tapi aku bisa memaklumi, karena acaranya skalanya lebih gede, dan kurasa juga di sini (red: Aula Kampus 1) juga gemanya lebih dapet. Jadi yaudahlah,” ungkapnya. (Yusuf/Aftar/Red).





