Ilustrasi: Aulia Ulfa/DinamikA
Oleh: M. Ghithrof Danil Barr
Judul Buku: Harimau! Harimau!Pengarang: Mochtar Lubis
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan: Cetakan ke-13, November 2025
Tebal Buku: vi + 214 hlm
Bagi mereka yang percaya bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia, buku karya Mochtar Lubis ini hadir sebagai pengingat bahwa kita pada dasarnya hanyalah binatang yang lihai memakai kemeja. Siapa yang tak kenal dengan Mochtar Lubis? Penulis yang juga dikenal sebagai jurnalis dan sastrawan angkatan 60-an ini melahirkan sebuah buku berjudul Harimau! Harimau!. Sekilas, judul buku ini mungkin memancing imajinasi anda pada petualangan liar memburu harimau di tengah hutan. Jika benar, selamat! Anda sudah terkecoh. Alih-alih menyajikan aksi perburuan, buku ini justru menyodorkan sebuah cermin, memaksa para pembacanya bertatap muka dengan “harimau” yang selama ini bersemayam dalam diri manusia.
Cerita dalam buku ini berfokus pada tujuh orang pencari damar yang memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda-beda. Di barisan paling sepuh, ada Pak Haji, sang pengembara lintas negara yang kenyang makan asam garam dunia. Terpaut sepuluh tahun di bawah Pak Haji, ada tokoh Wak Katok, seorang yang disegani bukan cuma karena jurus silatnya, tapi juga karena “embel-embel” ilmu sihir yang melekat padanya. Berikutnya ada Pak Balam, veteran tangguh saksi hidup pemberontakan PKI 1926. Di belakang para tetua ini, mengekor empat pemuda—Sutan, Talip, Sanip, dan Buyung—yang merupakan murid silat dari Wak Katok.
Buyung menjadi tokoh utama dalam novela berjumlah 212 halaman ini. Selain dari tujuh orang itu, ada juga tokoh pendukung seperti Wak Hitam, Siti Rubiyah—istri muda Wak Hitam, Zaitun—perempuan idaman Buyung, dan Pak Lebai, ayah Zaitun. Cerita bermula saat tujuh orang tersebut melangkah jauh ke jantung hutan belantara demi mengais rezeki dari damar, getah dari pepohonan.
Ketegangan mulai merayap saat rombongan ini singgah di huma milik Wak Hitam, seorang lelaki tua yang dikabarkan akrab dengan ilmu hitam. Ia tinggal di huma bersama Siti Rubiyah, istri mudanya. Suasana kian mencekam ketika serentetan peristiwa ganjil terjadi. Mulai dari kemunculan sekelompok orang misterius berpakaian serba hitam hingga kedatangan seorang tua yang meramal garis tangan mereka satu per satu. Peristiwa-peristiwa itu seakan menjadi isyarat akan datang sebuah malapetaka kepada mereka.
Saat perjalanan pulang, mereka dikejutkan dengan datangnya seekor harimau kelaparan yang mengubah perjalanan mereka menjadi pertaruhan nyawa. Pak Balam—korban pertama binatang buas ini—memberikan nasihat agar mereka mengakui kesalahan dan dosa besar yang mereka sembunyikan. Ia yakin bahwa harimau itu dikirim Tuhan untuk menghukum mereka. Di tengah cengkeraman rasa takut yang mencekam, Mochtar Lubis dengan sangat piawai membedah lapisan-lapisan kemunafikan yang kerap bersembunyi di balik topeng manusia.
Antara Menjadi Manusia atau Menjelma Harimau
Ketika maut berada tepat di depan mata, segala nalar dan moralitas mulai runtuh. Menyisakan insting binatang yang murni dan liar. Di sinilah ujian yang sesungguhnya terjadi: mereka dipaksa berdiri di persimpangan jalan yang menyakitkan. Mereka harus memilih untuk “menelanjangi diri”—dengan mengakui dosa-dosa masa lalu—atau justru membiarkan diri mereka berubah menjadi “harimau” sesungguhnya yang tega mengorbankan dan menerkam sesama demi keselamatan pribadi.
Harimau dalam cerita ini mungkin saja hanya metafora. Bisa jadi harimau di sini adalah jelmaan hawa nafsu manusia, seperti yang disinggung oleh pengarangnya melalui tokoh Pak Haji “.. sebelum kalian membunuh harimau yang buas, bunuhlah lebih dahulu harimau dalam hatimu sendiri.” Ada harimau yang jauh lebih berbahaya dalam jiwa setiap manusia. Harimau itu juga yang membuat sisi lain dari Wak Katok terungkap.
Sebagai pembaca, ada beberapa hal yang menjadi sorotan bagi saya. Yang pertama adalah perihal sejarah pemberontakan PKI 1926. Ada hal-hal keji yang dilakukan terhadap musuh, yakni Belanda sebagai penjajah, juga para priyayi pribumi yang merupakan antek-anteknya. Melalui tokoh Wak Katok, pengarang menyuguhkan sudut pandang bahwa kebrutalan adalah hal yang lumrah dalam kondisi perang. “Di waktu perang semuanya boleh dilakukan terhadap musuh,” kata Wak Katok membela dirinya. Hal ini memicu refleksi mendalam mengenai batas antara perjuangan dan hilangnya rasa kemanusiaan.
Yang kedua adalah tokoh utama Buyung yang cenderung “antihero”. Ia bukan tokoh yang sempurna. Sosoknya dibayangi sifat pengecut, keragu-raguan, dan gejolak nafsu yang tak terkendali. Puncak kerapuhannya terlihat saat ia merasa lebih baik mati daripada menanggung aib akibat mengakui kesalahannya.
Yang ketiga, buku ini juga secara tajam mengkritik ketergantungan manusia pada hal-hal mistis. Melalui narasi jimat dan mantra Wak Katok yang terbukti “palsu”, pembaca diajak untuk berpikir rasional dan melepaskan diri dari belenggu takhayul. Pesan moralnya jelas: keselamatan manusia bergantung pada keteguhan hati dan akal, bukan pada benda keramat.
Salah satu kekuatan utama cerita dalam novela ini adalah kemampuannya menguak sisi gelap manusia ketika dihadapkan pada situasi bahaya. Harimau di sini bukan hanya ancaman fisik, tapi juga simbol dari ketakutan dan kebingungan batin yang bisa merusak jiwa seseorang. Selain itu, ada sisi lain yang kurang dari novela ini. Penggambaran tokoh Siti Rubiyah cenderung pasif dan hanya berfungsi sebagai objek yang ditinggalkan begitu saja, dan juga tokoh Wak Hitam yang tidak jelas nasibnya di akhir cerita.
Buku ini laksana cermin bagi kita—makhluk yang seringkali takluk oleh egonya sendiri. Mochtar Lubis berhasil menciptakan sebuah karya yang memperlihatkan pertarungan manusia melawan dirinya sendiri. Ia meninggalkan pesan penting melalui buku ini: sebuah pengingat bahwa di dalam setiap manusia, masih tersembunyi seekor harimau yang siap menerkam siapa saja yang mengikuti kemauannya. Akhir kata, sisihkanlah waktu Anda untuk membaca buku ini. Temukan harimau dalam diri Anda, dan jangan ragu untuk menghabisinya!





