klikdinamika.com

Kala Kebenaran Dimanipulasi, Refleksi Drama The Manipulated

The Manipulated

Sumber Foto: Suara.com

Oleh: Ahmad Nur Huda

Judul: The Manipulated
Sutradara: Park Shin Woo
Tahun Rilis: 2025
Pemeran Utama: Ji Chang Wook dan Doh Kyung Soo (D.O. EXO)
Rumah Produksi: Studio Dragon

Drama Korea The Manipulated mengangkat kisah mengenai kehancuran seorang pria pekerja keras akibat manipulasi kejahatan yang terstruktur dan sistematis. Drama ini mengangkat isu ketidakadilan, kekuasaan, dan balas dendam dengan pendekatan yang serius dan penuh tekanan psikologis. Drama ini berfokus pada tokoh Park Tae-joong, seorang warga sipil yang menjalani hidup sebagai pekerja kurir hingga suatu hari dirinya dijebak dalam kasus kriminal berat yang sama sekali tidak ia lakukan. Tuduhan tersebut membuat Tae-joong kehilangan kebebasan, martabat, reputasi, dan kepercayaan hukum yang seharusnya menjadi pelindung.

Ji Chang Wook tampil sangat fantastis dalam memerankan Park Tae-joong. Ia mampu menampilkan transformasi karakter dari sosok pria polos dan penuh harapan menjadi individu yang keras, penuh luka batin, serta memiliki tekad balas dendam. Ekspresi wajah, bahasa tubuh, hingga dialog yang diucapkannya berhasil menyampaikan penderitaan psikologis seorang korban ketidakadilan. Penonton diajak ikut merasakan betapa hancurnya hidup seseorang ketika kebenaran dikubur oleh kekuasaan. Aktingnya terasa emosional namun tetap terkendali, membuat penderitaan Tae-joong terasa nyata dan menyentuh.

Di sisi lain, D.O. EXO (Doh Kyung Soo) memerankan karakter Ahn Yo-han, sosok villain yang menjadi dalang dari manipulasi tersebut. Berbeda dengan villain yang mengandalkan kekerasan fisik, Yo-han digambarkan sebagai figur cerdas, tenang, dan dingin. Kejahatan yang dilakukan tidak  bersumber dari emosi, melainkan dari kekuasaan dan ambisi. Ia memanipulasi hukum, bukti, serta manusia layaknya bidak catur. Akting D.O. terasa sangat kuat karena ia mampu menampilkan kejahatan tanpa banyak emosi, justru melalui ketenangan yang menakutkan.

Salah satu daya tarik utama drama ini terletak pada konflik psikologis antara Tae-joong dan Yo-han. Hubungan keduanya bukan sekedar korban dan pelaku, melainkan pertarungan antara keadilan dan kekuasaan. Drama ini menampilkan bagaimana seseorang yang memiliki kuasa dapat dengan mudah membentuk kebenaran versi mereka sendiri, sementara orang kecil dipaksa sendirian untuk membuktikan kebenaran yang sudah dimanipulasi.

Secara visual, drama ini dibalut dengan nuansa gelap dan suram yang sangat terasa pada setiap episodenya. Penggunaan cahaya serta musik latar berhasil membangun atmosfer ketidakpastian dan tekanan batin. Adegan penjara, penyelidikan, hingga aksi balas dendam dikemas dengan ritme yang konsisten sehingga penonton tetap terikat pada alur cerita.

Selain tema balas dendam, drama ini juga menyampaikan kritik sosial terhadap sistem hukum dan ketimpangan kekuasaan. Drama ini menegaskan bahwa hukum tidak selalu berpihak pada kebenaran, melainkan tunduk pada kepentingan golongan tertentu yang memiliki kendali. Pesan ini terasa relevan dan dekat dengan realitas sosial, sehingga drama ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai refleksi.

Secara emosional, penonton diuji ketika melihat perjuangan Tae-joong untuk membangun kembali hidupnya. Setiap langkah balas dendam yang ia ambil selalu diiringi dilema moral: apakah keadilan bisa ditegakkan tanpa mengorbankan kemanusiaan? Selain itu, penonton juga diajak mempertanyakan makna keadilan itu sendiri. Apakah keadilan hanya milik mereka yang berkuasa, atau masih dapat diperjuangkan oleh orang biasa? Pertanyaan ini menjadi benang merah yang membuat cerita semakin dalam dan bermakna.

Drama yang terdiri dari 12 episode ini tidak hanya menyajikan aksi ketegangan, tetapi konflik batin yang komplek. Tidak terdapat romansa yang dominan, namun hubungan antar karakter dibangun dengan intensitas emosi yang kuat, sehingga tetap memberikan kedalaman pada cerita. Perjalanan Tae-joong memperlihatkan bahwa balas dendam sering kali lahir dari putus asa, di mana sistem yang seharusnya melindungi justru menjadi alat penindasan.

Namun, menurut pendapat saya, pada episode awal, alur cerita berjalan cukup lambat karena banyaknya pengenalan karakter dan latar belakang konflik. Hal ini berpotensi membuat sebagian penonton merasa jenuh dan membuat kurang tertarik di awal. Meski demikian, kekurangan tersebut terbayar pada episode-episode selanjutnya ketika konflik utama mulai berkembang dan mencapai klimaks yang menegangkan. Selain itu, intensitas emosional dan visual gelap tanpa jeda romansa ringan bisa melelahkan bagi pemula genre thriller.

Secara keseluruhan, drama ini merupakan drama Korea yang kuat dari segi cerita, akting, dan pesan moral. Drama ini menegaskan bahwa manipulasi—sekecil apapun—dapat menghancurkan hidup seseorang secara menyeluruh. Dengan penampilan akting memukau dari Ji Chang Wook dan D.O., drama ini layak diapresiasi sebagai tontonan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran betapa pentingnya keadilan yang sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *