Sumber Foto: Najma/DinamikA
Klikdinamika.com – Berakhirnya PBAK 2025 menyisakan polemik penugasan PBAK yang dianggap oleh sebagaian mahasiswa UIN Salatiga memperkeruh permasalahan sampah. Hal lain, adanya pemungutan biaya untuk PBAK juga tak luput menjadi perbicangan PBAK tahun lalu. Sementara itu, meninjau Informasi perihal penugasan PBAK 2026—hingga diterbitkannya berita ini—belum juga ada pemberitahuan terkait ada-tidaknya penugasan.
Sebagai langkah verifikasi, DinamikA melakukan wawancara langsung dengan Muhammad Afrizal Firmansyah—Ketua Pelaksana PBAK 2026—di kampus 2 UIN Salatiga pada Rabu (5/8/2026).
Berikut penuturan Afrizal selengkapnya:
Apakah benar PBAK tahun ini tidak dipungut biaya sama sekali?
Ya, terkait dengan pembiayaan nggak ada pemungutan sama sekali dan itu untuk biaya yang kemudian didapatkan itu full dari rektorat akan tetapi kemudian kami dari kepanitiaan —bekerja sama dengan Pengembangan Bisnis (red: P2B UIN Salatiga)—itu ada pembukaan open kaus, cuma itu sifatnya sukarela bukan pemaksaan.
Oh tetap ada kaus, dan open Pre Order (PO) tidak wajib?
Tidak wajib, beli sukarela.
Karena tidak ada pemungutan biaya, apa saja yang sudah disiapkan untuk PBAK tahun ini selain pengembangan bisnis tadi?
Kalau itu, mungkin persiapannya hampir sama ya seperti tahun-tahun kemarin terkait dengan operasional, akan tetapi kemudian yang membedakan adalah apa yang didapat oleh maba.
Kalau kemarin kan seperti kemudian pagelaran, terus kaos, konsumsi, dan dana muawanah itu kan, dan merchandise didapat dari uang iuran yang dibagikan oleh maba, akan tetapi kemudian yang sekarang tidak ada iuran maka yang didapat maba itu hanya konsumsi saja selama empat hari.
Terkait dengan kaus seperti tadi yang kami bilang itu ada open PO bersifat sukarela. Untuk muawanah ini masih dalam tahap kajian, itu akan ada tetap ada atau mungkin akan dihapuskan, dan untuk pagelaran dan merchandise itu kemungkinan tidak ada sama sekali.
Berarti soal konsep PBAK, tidak ada yang berbeda selain tidak dipungut biaya?
Kurang lebihnya sama. Tetap di PBAK kali ini tetap ada sekolah kakak asuh. Kemudian yang kalau di PBAK yang nggak ada pagelaran kalau kemarin kan itu ada, kalau sekarang kemungkinan besar nggak ada. Sebenarnya kita juga masih mencari terkait dengan anggaran yang mungkin bisa kami dapatkan dari pihak-pihak luar untuk pelaksanaan pagelaran tersebut, tapi jika nanti tidak ada pemasukan dari pihak luar, ya pagelaran mungkin tidak ada sama sekali kemudian terkait dengan tasyakuran (red: Sholawatan) itu tetap ada nantinya.
Tahun lalu kan lumayan banyak kritik yang datang, mulai dari soal penugasan ya apalagi soal penugasan, banyak mahasiswa yang kesulitan untuk soal jajan dan lain sebagainya, dan ada dugaan terkait ada pihak yang bisa jadi mengambil keuntungan dari penugasan tersebut. Nah apakah di tahun ini tetap ada penugasan seperti tahun sebelumnya?
Oke kalau terkait dengan penugasan mungkin skema yang seperti tahun-tahun sebelumnya itu nggak ada. Jadi skema ketika maba itu diminta untuk mencari makanan dengan teka-teki itu tidak ada, akan tetapi kemudian, tetap untuk tahun ini maba itu tetap diminta untuk membawa makanan akan tetapi cuman mungkin bare minimum yang kami kemarin diskusikan itu, misal hanya air minum kemudian makanan semi berat—roti ataupun arem-arem, dan sebagainya dan mungkin makanan-makanan favorit mereka yang mereka bawa secara santai. Jadi seperti itu.
Baca Juga: Ritual Pemanggil Mahasiswa Bagian 1: Dompet Tebal Efisiensi PBAK
Setiap tahun kan pasti maba itu pasti ada mahasiswa yang kena KBGO—Kekerasan Gender Berbasis Online. Kemarin sempat ramai juga yang di-upload di @uinsalatiga_haramposting mungkin kalau sempat lihat. Nah ada nggak akhirnya mitigasi dari panitia untuk menanggulangi terjadinya kekerasan seksual?
Mungkin untuk pembahasan yang secara mendetail belum ada ya dari kami panitia, cuma tetap akan kami adakan karena memang kami juga menggandeng biro-biro seperti Tazkia dan juga PSGA untuk kemudian mereka masuk mensosialkan terkait dengan kekerasan itu tadi, agar kita dapat memitigasi kekerasan seksual itu agar tidak terjadi yang dirasakan oleh maba-maba itu.
Juga dengan apa adanya Kementerian Advokasi di Dema juga akan membantu untuk mengadvokasi ketika memang hal-hal yang tidak diinginkan terkait dengan kekerasan itu terjadi.
Apakah nanti segala informasi tentang PBAK tentang pengeluaran dana dan apa pun itu akan diinformasikan secara terbuka kepada publik atau tidak?
Oke terkait dengan transparansi ya. Transparansi, kami berkomitmen untuk membukanya. Kita akan mentransparansi terkait dengan keuangan, akan tetapi kemudian nanti kita menunggu penyelesaian laporan pertanggungjawaban agar tidak terjadi mispemahaman lah terkait dengan anggaran yang ada. (Sidqon/Red)





