Sumber Foto: Rifka/DinamikA
klikdinamika.com – Senat Mahasiswa (Sema) Fakultas Dakwah menyelenggarakan ruang dialog langsung antara mahasiswa dengan dosen melalui “Fakda Bersuara”. Namun, peserta forum didominasi oleh pengurus organisasi kemahasiswaan, Rabu (3/6/2026).
Minimnya partisipasi mahasiswa umum menjadi sorotan dalam kegiatan tersebut. Beberapa mahasiswa mengaku tidak mengetahui adanya forum tersebut, sementara sebagian lainnya menilai konsep kegiatan belum cukup menarik untuk mendorong mereka hadir dan menyampaikan aspirasi secara langsung.
Bella (bukan nama sebenarnya), salah satu mahasiswa Fakultas Dakwah, mengaku baru mengetahui kegiatan tersebut setelah acara selesai dilaksanakan. Ia mengatakan informasi mengenai “Fakda Bersuara” tidak sampai kepadanya. Sehingga ia tidak mengetahui adanya forum aspirasi tersebut.
“Aku nggak tahu, jadi aku tahunya itu di Instagram, jadi setelah kegiatan itu aku baru tahu gitu lewat Instagram,” ujar Bella.
Selain faktor informasi, Bella menilai forum diskusi seperti “Fakda Bersuara” masih dianggap kurang menarik oleh sebagian mahasiswa. Menurutnya, kesan kegiatan yang terlalu formal membuat mahasiswa kurang tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut.
“Aku kan memang belum pernah ikut kegiatan diskusi kayak gitu, cuma menurut aku kesan awalnya tuh boring gitu jadi ketika ada acara-acara selanjutnya pun aku nggak ada ketertarikan untuk ikut,” ungkapnya via pesan suara WhatsApp.
Pendapat serupa disampaikan Brian, mahasiswa Fakultas Dakwah yang mengetahui informasi kegiatan tersebut melalui grup WhatsApp fakultas. Meski mengetahui adanya acara tersebut, ia memilih tidak hadir karena memiliki agenda pribadi dan tugas perkuliahan yang harus diselesaikan. Selain itu, ia menilai forum tersebut belum cukup relevan dengan kebutuhannya saat ini.
“Saya pribadi sih tidak memiliki rencana untuk datang ya, karena mempertimbangkan beberapa agenda pribadi dan juga tugas-tugas dari kampus. Selain agenda pribadi dan juga tugas-tugas, menurut saya forum ini belum cukup menarik dan belum relevan sih dengan kebutuhan kuliah saya saat ini,” ujar Brian dalam wawancara via WhatsApp.
Brian juga mengaku masih meragukan efektivitas forum aspirasi tersebut. Menurutnya, sebagian mahasiswa belum yakin bahwa aspirasi yang disampaikan akan benar-benar ditindaklanjuti oleh pihak terkait.
“Saya tuh juga kurang yakin, apakah aspirasi yang disampaikan nantinya tuh benar-benar ditindaklanjuti atau pun benar-benar dilakukan, atau hanya cuma formalitas untuk mengisi acara doang seperti itu,” terangnya.
Terkait konsep kegiatan yang menghadirkan dosen secara langsung, Bella menilai langkah tersebut dapat menjadi sarana yang baik untuk mempertemukan mahasiswa dengan pihak fakultas. Namun, ia berpendapat bahwa kehadiran dosen dalam forum aspirasi juga dapat membuat sebagian mahasiswa merasa sungkan untuk menyampaikan kritik atau keluhan secara terbuka.
“Karena kebanyakan dari kita kan masih menjunjung sopan santun, jadi ketika mau berkeluh kesah itu kadang segan gitu, jadi menurut aku harus diadakan forum yang terpisah,” ungkap Bella.
Bella juga menyoroti kurangnya sosialisasi kegiatan kepada mahasiswa. Menurutnya, penyebaran informasi yang hanya mengandalkan media sosial belum cukup efektif untuk menjangkau seluruh mahasiswa, karena tidak semua mahasiswa aktif mengikuti unggahan organisasi kemahasiswaan.
“Anak-anak UIN kadang ngikutin instagramnya Sema, tapi kadang kita nggak selalu buka story-nya tiap hari kan. Jadi menurut aku, mereka juga perlu sih kayak cara langsung offline gitu, kan di kampus kayak sales itu kan suka nawarin brosur-brosur nah kayak gitu mereka tuh kayak ngundang perhatian temen-temen di kampus kayak ngasih tahu bahwa kita ada forum diskusi loh, ini gini-gini, jadi nggak cuma ngasih tahu lewat sosmed,” terangnya.
Sementara itu, Brian berharap Sema dapat terus menyediakan ruang aspirasi yang mudah diakses dan nyaman bagi mahasiswa. Menurutnya, yang terpenting bukan hanya menyediakan forum diskusi, tetapi juga memastikan setiap masukan yang disampaikan mahasiswa mendapat tindak lanjut yang jelas dan transparan.
“Harapan saya, Sema dapat terus menyediakan ruang aspirasi yang mudah diakses, nyaman, dan benar-benar mampu menindaklanjuti masukan dari mahasiswa. Selain itu, hasil dari setiap forum aspirasi sebaiknya dipublikasikan secara transparan agar mahasiswa mengetahui perkembangan dan tindak lanjut dari aspirasi yang telah disampaikan. Dengan begitu, kepercayaan mahasiswa terhadap forum aspirasi juga dapat meningkat,” pungkasnya. (Devi/Red)





