Sisi Lain Dampak Corona

Oleh: Firdan Fadlan Sidik

Dampak Corona mengajarkan Indonesia; seberapa siapkah dengan sistem pembelajaran digital menyongsong Digital Society 4.0?
Dampak Corona mengingatkan kita bahwa menjaga kebersihan itu penting. Padahal kebanyak manusia terlupa akan hal sepele ini.
Dampak Corona menggiring kita untuk senantiasa mendekati Tuhan Yang Maha Esa. Dialah pemilik virus dan Dia pulalah yang memmiliki obat penyembuhnya.
Dampak Corona itu menyebabkan segala hal serba ditunda dan dibatalkan, kecuali satu. Apakah itu?

Tidak bias dipungkiri bahwa virus Covid-19 (Corona) telah memakan banyak korban dikarenakan proses penyebarannya yang mudah meskipun jumlah korban yang terselamatkan lebih banyak daripada yang meninggal. Ahli kesehatan berpendapat bahwa ketahanan tubuh sangat berpengaruh terhadap virus Corona. Kebanyakan yang meninggal di Kota Wuhan (asal berkembangnya Virus Corona) adalah orang lanjut usia.
Saya tidak akan berbicara mengenai data korban, proses penyebaran, tata cara penanganan, maupun asal-usul virus Corona. Semua informasi itu bias didapatkan melalui berita di berbagai media, dan saya bukan siapa-siapa. Saya hanya ingin mencoba meraba dampak yang terjadi sekaligus berimajinasi tentang suatu hal unik dan hikmah di balik kejadian ini.
Virus Corona rentan menyebar. Gejala yang dirasakan cukup sederhana, flu dan batuk. Namun dampaknya mematikan. Akibat mudahnya penyebaran inilah, berbagai negara di dunia memberlakukan social distanting / lockdown (mengunci diri) dengan tujuan untuk menghindari interaksi dari keramaian. Tempat umum dan keramaian menjadi sepi, bahkan tempat ibadah pun kian ditinggalkan umatnya untuk beribadah. Berbagai kegiatan baik internasional, nasional, dan local ditunda bahkan dibatalkan.
Ada apakah gerangan? Akankah manusia mengambil hikmah dari kejadian ini? Atau hanya mengutuk pada takdir tanpa evaluasi diri?
Pada angka 16 di kalender Maret 2020, dengan berdasar pada surat edaran yang dikeluarkan oleh beberapa instansi pemerintahan, dengan serentak hampir seluruh instansi Pendidikan memberlakukan sistem pendidikan secara online. Gedung kampus dan sekolah disterilkan hingga seperti tidak ada tanda kehidupan. Ada yang kaget karena gagap teknologi, ada pula yang sudah lancar berselancar dengan teknologi. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi menjadi elemen canggih di era society 4.0 di mana kecerdasan buatan (artificial intelligent) akan mentransformasi big data pada segala sendi kehidupan serta the Internet of Things (IoT) akan menjadi suatu kearifan baru yang akan didedikasikan untuk meningkatkan kemampuan manusia membuka peluang-peluang bagi kemanusiaan.
Contoh konkretnya adalah revolusi transportasi konvensional menuju transformasi online (ojek online). Kemunculan makhluk ini sempat mengundang perselisihan antara keduanya. Namun waktu demi waktu semakin mereda dan beralih ke transportasi online karena menyadari bahwa generasi milenial cenderung menyukai hal yang lebih instan dan praktis.
Hikmah kedua, dari kaca mata religi. Sudut pandang ini akan membawa kita ke pintu hikmah yang banyak. Bagi muslim akan merasakan bahwasannya dalam syariat Islam diharamkan untuk mengkonsumsi daging hewan yang bertaring (HR. Bukhori Muslim), karnivora, bercakar tajam (HR. Muslim), dan hewan-hewan pemakan benda najis. Sedangkan menurut BBC, virus Corona dapat dipastikan berasal dari ular yang menyebar ke manusia, lalu dari manusia ke manusia.
Apakah musibah mewabahnya Virus Corona tidak cukup untuk membuat umat Manusia takjub akan kehebatan Tuhan dalam mengatur perilaku manusia ?
Segala kegiatan manusia ditunda, bahkan terpaksa dibatalkan karena sedang memberlakukan Social Distanting / Lockdown, yaitu kegiatan untuk mengurangi kontak interaksi secara langsung untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya penyebaran virus Corona yang mudah menular. Semua boleh ditunda, kecuali satu, yaitu senantiasa bersyukur akan keagungan Tuhan dan bertaubat atas segala musibah yang dilimpahkan oleh Tuhan kepada manusia.
“Dan segala musibah yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian.” (QS.Asy-Syu’ara: 30)
Kegiatan untuk merenungi keagungan Tuhan melalui virus Corona adalah kegiatan yang tidak bias ditunda. Social Distanting jangan dijadikan momen untuk berfoya-foya atau malah berliburan. Kuliah atau kerja online hanya sebagai pengganti agar esensi roda kehidupan tetap berjalan meski tanpa kontak secara langsung. Semoga generasi milenial bias cerdas dan kritis mengambil hikmah dari setiap fenomena yang terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *